Sabtu, 15 Desember 2012

BARU ATAU PEMBARUAN

Oleh : Asep P. Kurnia

Tahun baru senantiasa dijadikan momentum untuk membawa harapan baru. Logikanya, harapan baru tidak akan tergapai manakala kita tidak memiliki “DO IT” (kemampuan untuk melakukan). Merujuk pada Al-Qur’an (QS 94 : 7); Faidza faroghta fansob, tatkala kita selesai dari pekerjaan yang satu, maka segera lakukan pekerjaan yang baru. Melalui ayat ini, kita akan memperoleh sesuatu yang baru, dalam artian yang hakiki.


Kita, jangan sekali-kali tertipu dengan sesuatu yang baru. Karena baru bagi ‘Si B’ belum tentu baru bagi ‘Si A’. Si B sedang berbunga-bunga karena baru memiliki ‘inova’, tetapi bagi Si A sudah jenuh dan bosan hilir mudik ke kantor dengan mengemudikan inova. Seraya ia tengah mengidam-idamkan tipe mobil lain yang lebih gagah sekelas mobil super mewah milik tetangganya yang anggota ‘legeg’ lagi doyan korup.
Jadi, makna baru dalam konteks di atas menjadi sangat nisbi. Janda cantik yang baru kita nikahi, boleh dibilang istri baru bagi kita. Tetapi sesungguhnya dia adalah istri bekas bagi mantan suaminya. Maka berharap sesuatu yang baru hanya bersandarkan pada momentum pergantian waktu, adalah semu. Sejalan dengan ungkapan Latin; ‘nil novi sub sole’, tak ada yang baru di bawah matahari. Ini mengandung makna bahwa sebenarnya tdak ada yang namanya baru di permukaan bumi ini, yang ada hanyalah pembaruan. Dan pembaruan dapat dilakukan setiap saat, setiap ganti detik, ganti menit, ganti jam, ganti hari, ganti minggu, ganti bulan, termasuk ganti taun.
Kembali ke makna Al-Qur’an tadi, melakukan pekerjaan baru, berkonotasi pada sikapnya yang baru, dan bukan berarti bendanya yang baru. Istri kita, suami kita, lembaga kita, dan apapun milik kita, tidak akan ada yang baru, tetapi pembaharuanlah yang ada. Andaikan pada tahun kemarin, cenderung pola sikap keseharian kita senantiasa berimplikasi negatif, maka harapan di tahun yang akan datang sikap dan perilaku tersebut seyogyanya menjadi lebih produktif dan bernilai positif.
Sejatinya, kita tidak terjebak untuk memaksakan diri mencari yang baru, karena bisa kembali ke zaman batu. Kehidupan di zaman itu selalu bertumpu pada upaya pencarian tempat baru (nomadis). Habis berladang di tempat yang satu, berpindah merambah hutan dan pasir yang baru. Mencari lokasi baru, sementara sayang dengan lokasi lama yang sesungguhnya bisa diperbarui melalui upaya konservasi dan diversifikasi. Dua kata kunci ini ternyata bisa menjadi resep ampuh bagi kita untuk menapaki kehidupan penuh harapan, dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan bulan ke bulan, di tahun yang baru.***

Tidak ada komentar: