Tahun baru senantiasa dijadikan momentum untuk membawa
harapan baru. Logikanya, harapan baru tidak akan tergapai manakala kita tidak
memiliki “DO IT” (kemampuan untuk melakukan). Merujuk pada Al-Qur’an (QS 94 :
7); Faidza faroghta fansob, tatkala
kita selesai dari pekerjaan yang satu, maka segera lakukan pekerjaan yang baru.
Melalui ayat ini, kita akan memperoleh sesuatu yang baru, dalam artian yang hakiki.
Kita, jangan sekali-kali tertipu dengan sesuatu yang baru.
Karena baru bagi ‘Si B’ belum tentu baru bagi ‘Si A’. Si B sedang
berbunga-bunga karena baru memiliki ‘inova’, tetapi bagi Si A sudah jenuh dan
bosan hilir mudik ke kantor dengan mengemudikan inova. Seraya ia tengah
mengidam-idamkan tipe mobil lain yang lebih gagah sekelas mobil super mewah
milik tetangganya yang anggota ‘legeg’
lagi doyan korup.
Jadi, makna baru dalam konteks di atas menjadi sangat nisbi.
Janda cantik yang baru kita nikahi, boleh dibilang istri baru bagi kita. Tetapi
sesungguhnya dia adalah istri bekas bagi mantan suaminya. Maka berharap sesuatu
yang baru hanya bersandarkan pada momentum pergantian waktu, adalah semu.
Sejalan dengan ungkapan Latin; ‘nil novi
sub sole’, tak ada yang baru di bawah matahari. Ini mengandung makna bahwa
sebenarnya tdak ada yang namanya baru di permukaan bumi ini, yang ada hanyalah
pembaruan. Dan pembaruan dapat dilakukan setiap saat, setiap ganti detik, ganti
menit, ganti jam, ganti hari, ganti minggu, ganti bulan, termasuk ganti taun.
Kembali ke makna Al-Qur’an tadi, melakukan pekerjaan baru,
berkonotasi pada sikapnya yang baru, dan bukan berarti bendanya yang baru.
Istri kita, suami kita, lembaga kita, dan apapun milik kita, tidak akan ada
yang baru, tetapi pembaharuanlah yang ada. Andaikan pada tahun kemarin,
cenderung pola sikap keseharian kita senantiasa berimplikasi negatif, maka
harapan di tahun yang akan datang sikap dan perilaku tersebut seyogyanya
menjadi lebih produktif dan bernilai positif.
Sejatinya, kita tidak terjebak untuk memaksakan diri mencari
yang baru, karena bisa kembali ke zaman batu. Kehidupan di zaman itu selalu
bertumpu pada upaya pencarian tempat baru (nomadis). Habis berladang di tempat
yang satu, berpindah merambah hutan dan pasir yang baru. Mencari lokasi baru,
sementara sayang dengan lokasi lama yang sesungguhnya bisa diperbarui melalui
upaya konservasi dan diversifikasi. Dua kata kunci ini ternyata bisa menjadi
resep ampuh bagi kita untuk menapaki kehidupan penuh harapan, dari hari ke
hari, minggu ke minggu, dan bulan ke bulan, di tahun yang baru.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar