Tampilkan postingan dengan label Merancang Agenda KBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merancang Agenda KBM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2011

MERANCANG AGENDA KBM DI SEMESTER KEDUA

By : Asep P. Kurnia
Secara umum agenda kegiatan belajar mengajar (KBM) telah diprogramkan pada awal tahun pelajaran, tetapi penting pula membuat perencanaan khusus memasuki semester kedua. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kinerja yang lebih efesien, mengingat jumlah hari efektif pada semester kedua ini lebih pendek dibanding semester pertama.
Semester kedua merupakan tahapan kedua dalam tahun pelajaran yang sedang berjalan. Sepertinya tidak ada yang istimewa, mengingat garapan edukatif merupakan kelanjutan dari semester yang pertama. Seperti halnya garapan guru, program pengajaran, silabus, bahkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pun ada yang dibuat dalam satu tahun pelajaran di awal tahun pelajaran  tersebut.
Pada dasarnya ada beberapa yang perlu diperhatikan oleh guru dan kepala sekolah, menjelang masuk semester kedua. Pertama, kalender pendidikan yang memuat jumlah hari efektif yang lebih pendek dibanding semester pertama. Hal ini penting, untuk mempertimbangkan ruang lingkup materi pelajaran yang akan disajikan pada semester ini. Sebagai contoh, Matematika kelas satu Sekolah Dasar yang masing-masing semester memiliki tiga standar kompetensi dan sepuluh kompetensi dasar. Sementara kompleksitas dan bobot materi pada semester kedua, sudah tentu lebih berat dibanding semester pertama.
Kita lihat saja standar kompetensi pada awal semester pertama dan kedua. Pada semester pertama bertopik; Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20. Kompleksitas dan bobot materi ini lebih rendah dibanding dengan standar kompetensi pada awal semester kedua berikut; Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah. Materi ini menyajikan kalimat matematika yang diintegrasikan ke dalam materi soal cerita. Materi soal cerita atau lazim disebut pemecahan masalah, memerlukan imajinasi untuk dapat menerjemahkan tanda pengerjaan apa yang dikandung, sehingga dapat diperoleh jawaban yang benar. Aplikasi pengajaran ini membutuhkan ruang lingkup waktu yang luas, karena bisa jadi di beberapa sekolah dengan tingkat kemampuan siswa yang rendah, akan terjadi beberapa kali pengulangan pembelajaran, atau remedial.
Sementara ruang lingkup waktu untuk mewadahi kedua materi tersebut, ternyata tidak rasional dan tidak proporsional.  Materi sulit, logikanya di semester kedua, sementara ruang lingkup waktu yang dialokasikan seringkali mepet mengingat dikejar oleh jadwal pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) dan Ujian Nasional (UN) atau UASBN di Sekolah Dasar.
Kedua, dalam rangka menyongsong kenaikan kelas yang lazim diselenggarakan dengan berbagai atraksi pertunjukan, maka hari-hari pertama di semester kedua akan dipadati oleh persiapan dan kegiatan latihan, seperti; kesenian, drama, dan bentuk kreasi seni lainnya untuk mengisi mata acara di hari H kenaikan kelas tersebut. Kondisi ini membuat konsentrasi guru terpecah-pecah. Di sisi lain, tuntutan intrakurikuler dengan kompleksitas materi perlu dilaksanakan secara optimal.  Dilain pihak, berbagai kegiatan latihan seperti dirinci di atas menjadi primadona kesibukan yang diminati anak dan orang tua, sehingga keberadaannya tidak bisa diabaikan oleh guru.
Dan ketiga, perlu diperhatikan pula, bahwa di semester kedua, hari efektif semakin berkurang seiring dengan banyaknya hari-hari libur, seperti; libur nasional, dan peringatan hari bersejarah. Pada semester dua di tahun pelajaran 2010/2011 ini terdapat 6 hari libur nasional dan paling tidak ada 2 hari peringatan bersejarah, yaitu; Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional, yang memungkinkan para guru dan siswa mengikuti kegiatan upacara, sehingga praktis kegiatan belajar mengajar terhenti. Belum lagi libur selama penyelenggaraan Ujian Nasional, bagi siswa kelas di bawahnya. Jelas, momentum tersebut semakin mempersempit alokasi waktu yang tersedia bagi penyajian materi pengajaran.
Bagaimana solusi untuk mengantisipasi ketimpangan ini? Beberapa diantaranya adalah merancang materi dengan alokasi waktu yang tersedia. Prioritaskan materi yang benar-benar sulit dan belum dikuasai siswa. Adapun materi lain yang dianggap mudah dan telah terlintas di semester pertama, dapat dimasukan ke dalam kegiatan kokurikuler, atau pada tugas-tugas tertentu yang diselesaikan oleh siswa di rumah. Di samping itu frekwensi pemberian pekerjaan rumah juga ditingkatkan, dengan mempertimbangkan kemampuan anak, sehingga anak tidak merasa terbebani yang berakibat shock dan jenuh belajar.
Ini adalah salah satu dari tantangan kreativitas guru untuk membuat agenda khusus dalam rangka mengantisipasi fenomena awal semester dua dan menjelang akhir tahun pelajaran. Semoga bermanfaat.***