Kamis, 07 Juli 2011

RINDUKU RINDU BUKU


Saya yakin, kebanyakan dari para penulis awalnya berangkat dari coba-coba menulis. Di sini bergelut antara yakin atau tidak bahwa kelak diri ini akan menjadi seorang penulis, bahkan menjadi seorang penulis ternama. Menulis, ternyata dapat menjadi pilihan hidup. Karena dapat kita saksikan bahwa kini banyak para penulis yang mampu menghidupi dirinya dan keluarganya, hanya dari menulis. Tetapi dengan mencoba menulis, dapat menjerumuskan kita ke dalam lembah frustasi. hal ini terjadi manakala setelah kita berkali-kali mengirimkan karya tulis kita ke beberapa media, dan hasilnya ditolak belaka. Sangat pahit rasanya, tatkala kita menerima kembalian naskah kita dari sebuah media, dengan hanya sedikit kata-kata "maaf naskah anda belum dapat kami terima". Kita akan sedikit terhibur, apabila ada deskripsi "naskah anda telah kami pelajari, tetapi konten tidak dapat kami terima, karena tidak relevan dengan misi media kami". Kata-kata ini memberi arahan bahwa tidak menutup kemungkinan ada media yang dapat menerima naskah kita ini. Ada pula deskripsi seperti berikut; "konten tulisan Anda hanya relevan untuk kalangan orang tua, sementara sasaran media kami adalah remaja". Selain memberi arahan, deskripsi ini mengingatkan kepada kita, bahwa media yang kita tuju ini membutuhkan konten remaja. Sehingga kita memiliki peluang mengubah konten tulisan kita sesuai dengan misi media tersebut.
Frustasi dalam menulis, akan membawa kita gagal menjadi seorang penulis. Sebaliknya, jika kita bersedia mengeksekusi diri untuk berlumpur-lumpur dalam setiap petak kehidupan sebagai penulis, maka inilah salah satu momentum yang akan mengantarkan kita sebagai penulis, bahkan penulis sejati. Seorang petani, dapat riang gembira memetik butiran padi, setelah berbulan-bulan sebelumnya menceburkan diri ke dalam lumpur petak sawah disertai dengan banyak tetesan keringat di dahi dan pipinya.
Bagaimana kita dapat melihat momentum seseorang menjadi seorang penulis yang benar-benar mapan sebagai penulis, dan memetik hasilnya dari menulis.

. Maka salah satunya aktivitas dari keseluruhan proses menulis, adalah membaca. Membaca adalah bagian penting dalam memperoleh modal sehingga kita mampu menuangkan gagasan dalam menulis. Dengan membaca, berarti kita akan berhadapan dengan buku, dan buku apa yang layak kita baca yang relevan dengan tema menulis yang kita persiapkan.

Tidak ada komentar: